Halal bi Halal IIC e.V. Hamburg 2026, 1447 H
Mempererat Silaturahmi dan Menguatkan Nilai Taqwa Pasca Ramadhan
Organisasi Indonesian Islamic Community e.V. (IIC e.V.) berkerja sama dengan KJRI Hamburg dan kelompok masyarakat Islam di Jerman menyelenggarakan kegiatan Halal bi Halal pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, yang dihadiri sekitar 100 jamaah Indonesia dari Hamburg dan sekitarnya. Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan dengan rangkaian kegiatan berupa tausiyah, makan bersama, dan ramah tamah antar jamaah.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sesama Muslim Indonesia di perantauan sekaligus menjaga semangat ibadah setelah bulan Ramadhan.
Makna Halal bi Halal dalam perspektif sejarah dan Islam
Dalam tausiyah yang disampaikan pada acara tersebut dijelaskan bahwa istilah halal bi halal bukan berasal langsung dari bahasa Arab klasik, melainkan berkembang dalam tradisi masyarakat Indonesia. Secara sejarah, istilah ini dikenal sejak masa awal kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 1948, ketika kondisi politik nasional sedang mengalami ketegangan.
Pada masa itu, Presiden pertama Indonesia, Sukarno, meminta nasihat kepada ulama besar Nahdlatul Ulama, Wahab Chasbullah, untuk mencari cara menyatukan para tokoh bangsa yang sedang berselisih. Sang ulama kemudian menyarankan agar diadakan pertemuan silaturahmi setelah Idul Fitri sebagai sarana saling memaafkan, yang kemudian dikenal dengan istilah halal bi halal.
Secara makna, halal bi halal dipahami sebagai upaya menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik dan sesuai syariat, serta saling memaafkan agar hubungan antar manusia kembali bersih dan tidak menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat.
Makna Minal ‘Aidin wal Faizin
Dalam tausiyah juga dijelaskan bahwa ucapan
“Minal ‘aidin wal faizin” bukan berarti “mohon maaf lahir batin”, tetapi merupakan doa agar kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadhan.
Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu, melawan godaan syaitan, serta kembali kepada ketaatan kepada Allah SWT.
Tanda diterimanya amal Ramadhan
Mengutip penjelasan para ulama, di antaranya Ibn Qayyim al-Jawziyya, tanda diterimanya amal tidak hanya dilihat dari banyaknya ibadah, tetapi dari perubahan sikap setelah Ramadhan.
Di antara tanda tersebut adalah seseorang merasa amalnya masih sangat sedikit, tidak bangga dengan ibadahnya, dan terus berusaha meningkatkan ketaatan. Bahkan dianjurkan untuk selalu beristighfar setelah melakukan ibadah, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad, yang mengajarkan membaca istighfar setelah shalat.
Selain itu, tanda lain dari diterimanya amal adalah meningkatnya ketakwaan. Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Ali ibn Abi Talib, taqwa mencakup empat hal: takut kepada Allah, berusaha mengamalkan Al-Qur’an, merasa cukup dengan yang sedikit dari dunia, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Lima doa untuk menjaga keistimewaan ibadah setelah Ramadhan
Dalam penutup tausiyah, jamaah diingatkan untuk menjaga semangat ibadah setelah Ramadhan dengan memperbanyak doa-doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, di antaranya:
- Doa agar amal diterima
Rabbana taqabbal minna innaka antas sami’ul ‘alim
(QS Al-Baqarah:127)
Doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar amal yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. - Doa agar hati tetap istiqamah
Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik
Doa yang sering dibaca oleh Nabi Muhammad ﷺ agar hati tetap teguh di atas agama. - Doa agar dimudahkan dalam ibadah
Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik
Doa agar diberi kekuatan untuk berdzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadah. - Doa agar selalu mendapat petunjuk
Allahumma ihdini wa saddidni
Doa memohon hidayah dan keteguhan di atas kebenaran. - Doa untuk sesama kaum muslimin
Taqabbalallahu minna wa minkum
Doa yang biasa diucapkan saat Idul Fitri, yang berarti:
Semoga Allah menerima amal ibadah dari kami dan dari kalian.
Para ulama menjelaskan bahwa para sahabat Nabi bahkan berdoa selama berbulan-bulan setelah Ramadhan agar amal mereka diterima oleh Allah SWT.
Memperkuat ukhuwah di perantauan
Kegiatan Halal bi Halal diakhiri dengan makan bersama dan ramah tamah yang semakin mempererat ukhuwah di antara jamaah Indonesia di Hamburg dan sekitarnya.
Melalui kegiatan ini diharapkan silaturahmi tetap terjaga, semangat ibadah terus meningkat, dan nilai-nilai keislaman dapat terus hidup di tengah masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.






